Diniyah Putri Lampung

MENJAGA GENERASI DARI KENAKALAN REMAJA: PENYULUHAN INSPIRATIF SATBIMAS POLRES PESAWARAN DI DINIYYAH PUTRI LAMPUNG
foto bersama Kepala Satbimas Polres Pesawaran

LAMPUNG — DMP/MTs dan KMI/MA Diniyyah Putri Lampung (DPL) pada Rabu, 05 Maret 2026 menerima kunjungan jajaran kepolisian dari Polres Pesawaran melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbimas). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sosialisasi dan penyuluhan mengenai pencegahan kenakalan remaja kepada para santriwati.

Rombongan dipimpin oleh Ipda Zaitun Nawari, S.H. bersama tim yang terdiri dari Aiptu Kuswanto, Aiptu Andi Pramon, Aiptu Albert, dan Aipda Aldias. Rombongan telah tiba di lingkungan pesantren sebelum acara dimulai dan disambut oleh Kepala KMI/MA DPL, Ahmad Suhail Al-Anshory, M.Ed. bersama salah satu guru, Rian Atmaningrum, S.P., S.Psi.. Pertemuan awal berlangsung di kantor sekretariat DPL. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, kedua belah pihak berbincang mengenai kondisi santriwati serta upaya pembinaan karakter generasi muda di lingkungan pesantren.

Sesuai jadwal, tepat pukul 10.00 WIB kegiatan penyuluhan dimulai. Acara dipandu langsung oleh Kepala KMI/MA DPL yang kemudian menyerahkan sesi utama kepada Ipda Zaitun untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada para santriwati. Dalam penyampaiannya, Ipda Zaitun menjelaskan bahwa kenakalan remaja masih menjadi fenomena yang banyak terjadi di kalangan pelajar, baik di tingkat SMP maupun SMA. Ia menyebutkan beberapa bentuk kenakalan remaja yang sering ditemukan di masyarakat, seperti bolos sekolah, merokok, perkelahian antar pelajar, hingga pergaulan bebas.

“Masih banyak teman-teman kalian di luar sana yang terlibat dalam berbagai bentuk kenakalan remaja. Hal itu terjadi karena berbagai faktor, seperti pengaruh lingkungan, kurangnya perhatian, dan masa remaja yang masih dalam proses mencari jati diri,” jelasnya di hadapan para santriwati.

Ia menambahkan bahwa usia remaja merupakan masa yang sangat rentan karena emosi yang masih labil dan keinginan untuk diakui oleh lingkungan sekitar seringkali mendorong seseorang untuk mengikuti perilaku yang tidak baik. Meski demikian, Ipda Zaitun mengapresiasi lingkungan pendidikan di Diniyyah Putri Lampung yang dinilainya mampu membina para santriwati dengan baik. Ia menyampaikan rasa syukur karena para santriwati mendapatkan lingkungan pendidikan yang kondusif untuk membentuk karakter yang positif.

“Bersyukurlah karena orang tua kalian memilihkan sekolah yang baik. Di sini kalian dibimbing untuk menjadi pribadi yang baik dan insya Allah terhindar dari kenakalan remaja,” ujarnya.

Selain membahas kenakalan remaja, Ipda Zaitun juga menyoroti fenomena perundungan atau bullying yang sering terjadi di kalangan pelajar. Ia menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa ejekan, sindiran, pengucilan, hingga mempengaruhi teman lain untuk memusuhi seseorang. Menurutnya, dampak dari bullying seringkali jauh lebih berat daripada kekerasan fisik karena dapat melukai perasaan dan mental seseorang. Bahkan dalam beberapa kasus, korban bullying mengalami tekanan psikologis yang sangat berat.

“Bullying terkadang tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Ada anak yang terlihat diam ketika diejek, tetapi sebenarnya merasa sangat malu dan terluka,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak para santriwati untuk berani menyampaikan jika mengalami atau menyaksikan tindakan yang tidak menyenangkan. Dalam kesempatan tersebut ia memperkenalkan konsep “Rise and Speak”, yaitu keberanian untuk menyampaikan kebenaran dan melaporkan hal-hal yang tidak nyaman kepada pihak yang dapat dipercaya.

“Ananda harus berani rise and speak. Sampaikan kepada guru, kepada orang tua, atau kepada orang yang dipercaya jika ada sesuatu yang membuat kalian tidak nyaman. Jangan takut untuk berbicara,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Ipda Zaitun juga mengingatkan pentingnya menghargai orang tua yang telah berjuang keras untuk masa depan anak-anaknya. Ia mengajak para santriwati untuk tidak segan mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada ayah dan ibu atas pengorbanan mereka.

“Coba sekali-kali katakan kepada ayah dan ibu, ‘Terima kasih sudah membesarkan saya, saya sayang ayah dan ibu.’ Percayalah, itu akan menjadi kebahagiaan besar bagi orang tua,” pesannya.

Dalam sesi dialog yang berlangsung hangat, para santriwati juga diajak berdiskusi dan menjawab beberapa pertanyaan seputar pengalaman mereka di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Interaksi tersebut membuat suasana penyuluhan terasa lebih hidup dan komunikatif.

Melalui kegiatan ini, pihak madrasah berharap para santriwati semakin memahami pentingnya menjaga diri dari pengaruh negatif serta memiliki keberanian untuk bersikap jujur dan terbuka apabila menghadapi permasalahan. Kegiatan sosialisasi ini menjadi wujud sinergi antara lembaga pendidikan dan aparat kepolisian dalam membina generasi muda yang berkarakter, berakhlak baik, serta memiliki kesadaran hukum dan tanggung jawab sosial.