Diniyah Putri Lampung

MENIMBA HIKMAH SAMBUTAN Prof. dr. FASLI JALAL, SP.GK., Ph.D: PEREMPUAN SEBAGAI FONDASI PERADABAN

Perjalanan Perguruan Diniyyah Putri tidak dapat dilepaskan dari visi besar para pendirinya dalam memandang perempuan sebagai fondasi utama peradaban. Pandangan ini terungkap dalam refleksi sejarah yang menyingkap awal perkembangan perguruan sekaligus kiprah para alumninya di berbagai wilayah.

Sekitar tahun 1980, ayah Prof. Fasli dari salah satu tokoh yang hadir memasuki masa pensiun dan kembali mengabdi sebagai pengajar di Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI). Sepuluh tahun kemudian, terjalin kembali pertemuan dengan para alumni, di antaranya Kak Norma, Kak Halimah, dan Kak Rosmah [panggilan akrab oleh Prof. Jalal]. Ketiganya kemudian menjadi pendiri lembaga-lembaga pendidikan, yang tertua Diniyyah Pekan Baru, kemudian Diniyyah Putri Lampung dan berikutnya Diniyyah Al-Azhar yang sekarang sudah ada cabang di berbagai daerah, seperti Jambi, Muara Bungo, Muara Tebo, Muara Bulian, serta membuka cabang di Riau.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Diniyyah Putri telah memberi dampak luas, dengan cabang tertua berada di Pekanbaru, disusul Jambi. Pendiri Diniyyah Putri, yang akrab disapa Encik Rama, sejak awal menanamkan cita-cita agar para alumni menebarkan ilmu di mana pun berada, bahkan bila perlu mendirikan sekolah-sekolah baru. Pendirian tersebut tidak harus mengatasnamakan Diniyyah Putri, selama filosofi pendidikan yang diwariskan tetap hidup dan diamalkan.

Filosofi ini berangkat dari keyakinan bahwa perempuan memegang peran sentral dalam kehidupan. Perempuan dipersiapkan menjadi manajer rumah tangga yang tangguh, orang tua yang memahami pola asuh anak, memiliki pola pikir positif, serta mampu membangun fondasi karakter anak sejak usia dini. Konsep golden age—masa keemasan perkembangan anak sejak dalam kandungan hingga usia lima tahun—telah menjadi perhatian utama beliau jauh sebelum diperkenalkan oleh UNESCO, UNICEF, maupun WHO.

Sejak tahun 1923, beliau menegaskan bahwa ibu adalah fondasi bangsa dan guru pertama bagi anak-anaknya, yang perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi yang memadai. Karena itu, para alumni Diniyyah Putri diyakini sebagai tiang rumah tangga sekaligus tiang negara, yang insyaallah berkontribusi dalam membangun peradaban dunia yang maju dan berkeadilan.

Lulusan Diniyyah Putri juga diproyeksikan sebagai pendakwah dalam berbagai dimensi kehidupan. Banyak di antaranya menjadi guru, sejalan dengan pendidikan KMI yang menekankan kemandirian dan kekuatan jiwa. Cita-cita besar yang ingin diwujudkan adalah lahirnya perempuan-perempuan tangguh yang mampu mendampingi suami, membina anak-anak, membantu masyarakat, serta berdakwah dalam berbagai peran—baik dalam lingkup kecil maupun besar, bahkan hingga ranah kebijakan publik.

Sejumlah alumni Diniyyah Putri tercatat menjadi anggota legislatif di Indonesia dan menteri perempuan di Malaysia. Semua itu merupakan bagian dari legasi besar yang diwariskan perguruan ini kepada para alumninya.

Namun, menjaga dan mengembangkan legasi tersebut bukan perkara mudah. Oleh karena itu, perguruan mendukung kehadiran tokoh-tokoh ulama internasional, seperti Prof. Dr. Fadi Fouad Alameddine, guru besar Global University, Lebanon. Kehadiran beliau diharapkan dapat memperluas jejaring keilmuan serta berbagi pengalaman dengan sekolah-sekolah Diniyyah Putri dan lembaga pendidikan lainnya.

Global University sendiri dikenal sebagai salah satu universitas terkemuka di Lebanon, selain Al-Azhar. Interaksi dengan ulama internasional ini menghadirkan refleksi mendalam. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia kaya dengan simbol dan praktik keislaman. Namun, ketika dikaji lebih dalam, masih terdapat tantangan dalam kekokohan akidah dan pengamalan nilai-nilai Islam secara menyeluruh.

Pada tataran implementasi—dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial—masih banyak ruang untuk perbaikan. Dari pengalaman mereka yang mengelola ratusan sekolah di berbagai negara, bahkan di tengah masyarakat sekuler yang kerap memandang Islam secara negatif, tampak betapa kuatnya fondasi akidah yang dibangun. Islam dipraktikkan sebagai rahmat bagi semesta, bukan sekadar simbol.

Inilah pelajaran berharga yang perlu terus ditimba oleh keluarga besar Diniyyah Putri dalam melanjutkan perjuangan pendidikan dan dakwah. Ditegaskan pula bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang mampu menghadirkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi sesama. Kemaslahatan ini sangat bergantung pada kualitas diri: sejauh mana seseorang mampu menata dan menyelesaikan kehidupannya dengan baik.

Fondasi utama yang harus dipegang teguh adalah iman, takwa, dan akhlak mulia—nilai-nilai yang juga menjadi amanat konstitusi bangsa. Namun, fondasi tersebut perlu ditopang oleh kesehatan sebagai modal dasar untuk mengabdi, serta ilmu dalam makna yang luas dan multidimensi. Ilmu mencakup ilmu keagamaan, sosial, teknik, teknologi, hingga ilmu antariksa. Seluruh alam semesta dianugerahkan Allah SWT untuk dipelihara, dimanfaatkan, dan dipelajari oleh manusia.

Karena itu, umat Islam dituntut menjadi insan beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, dan berilmu. Semua itu perlu disempurnakan dengan kecerdasan, termasuk kecerdasan majemuk (multiple intelligences): matematis, linguistik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, hingga kecerdasan sosial dan lingkungan. Setiap bentuk kecerdasan merupakan potensi berharga untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Sebagai penutup, hadirin diajak untuk merenung: sudahkah ketakwaan kita meningkat? Sudahkah kehadiran kita memberi manfaat bagi banyak orang? Modal apa yang kita miliki—pendidikan, pekerjaan, atau pengalaman hidup—dan sejauh mana modal itu digunakan untuk membantu sesama?

Semakin tinggi pendidikan dan posisi seseorang, semakin besar peluang memberikan manfaat yang luas. Namun, kebaikan tidak diukur semata dari besarnya kontribusi materi. Amal sekecil apa pun, jika dilakukan dengan keikhlasan dan kualitas iman, dapat bernilai besar di sisi Allah SWT, bahkan melampaui sumbangan besar dari mereka yang telah mapan.

Dengan semangat itulah, seluruh hadirin diajak untuk terus belajar, meneladani kekokohan akidah, menguatkan amal saleh dan amal jariah, serta meneguhkan akhlakul karimah dalam setiap aspek kehidupan.