
Kegiatan bertajuk The International Seminar on Islamic Education: “The Challenges of Building a Competitive Islamic Education” ini dilaksanakan pada hari Ahad, 10 Februari 2026. Perguruan Diniyyah Putri Lampung (PDPL) turut memenuhi undangan dari saudara seperjuangan, Diniyyah Al-Azhar, sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat jejaring dan pengembangan mutu pendidikan Islam di tingkat nasional dan internasional.
Sebanyak 10 peserta dari PDPL hadir dalam kegiatan tersebut, yang dibawa langsung oleh Ketua Lembaga Nazhir PDPL, Bapak Dr. Iskandar Syukur, M.A. Keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi PDPL untuk menyerap gagasan, memperluas wawasan, serta memperkuat semangat membangun pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing.
Tantangan Stereotipe terhadap Pendidikan Islam
Syeikh Wissam mengawali pemaparannya dengan menyoroti adanya stereotipe yang berkembang di masyarakat, yaitu anggapan bahwa sekolah yang berkualitas dan menjanjikan masa depan cerah adalah sekolah yang berorientasi Barat, bukan sekolah Islam. Paradigma ini, menurut beliau, bahkan terkadang hadir dalam lingkungan keluarga Muslim sendiri.
Beliau mencontohkan pengalaman pribadinya, di mana sang ayah lebih dahulu mengajarkan Bahasa Prancis dibandingkan Bahasa Arab dengan alasan agar memiliki peluang sukses di masa depan. Hal ini menunjukkan bagaimana simbol keberhasilan sering kali dikaitkan dengan sistem Barat, sementara identitas keilmuan Islam kurang mendapat kepercayaan.
Padahal, pendidikan Islam memiliki fondasi konsep yang sangat kuat, yaitu akidah, akhlak, Al-Qur’an, dan Sunnah—nilai-nilai yang tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan integritas.
Kepercayaan Diri sebagai Titik Awal Perubahan
Dalam sesi berikutnya, Syeikh Wissam menekankan bahwa kebangkitan pendidikan Islam harus dimulai dari kepercayaan diri para pemimpin dan pengelolanya. Beliau menegaskan bahwa kepercayaan seorang pemimpin akan tercermin dalam sikap guru, dirasakan oleh orang tua, dan pada akhirnya membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.
“Jika pemimpin tidak memiliki keyakinan, maka guru tidak akan yakin. Jika guru tidak yakin, orang tua pun tidak akan percaya,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh moderator yang menegaskan bahwa seminar ini memang ditujukan bagi para praktisi pendidikan—kepala sekolah, guru, dosen, dan pengelola lembaga—karena perubahan harus dimulai dari keyakinan internal bahwa lembaga yang mereka kelola adalah yang terbaik. Ketika pengelola percaya, maka orang tua akan mengikuti kepercayaan tersebut.
Menguji Tingkat Keyakinan
Dalam suasana yang interaktif dan penuh semangat, Syeikh Wissam bahkan mengajak peserta untuk menguji tingkat keyakinan mereka. Beliau meminta seluruh peserta untuk bersama-sama mengucapkan dengan suara lantang:
“We are the best school!”
“Kita adalah sekolah terbaik!”
Ajakan tersebut bukan sekadar yel-yel, melainkan latihan mental untuk mengubah pola pikir dan menghapus stereotipe yang selama ini melemahkan kepercayaan diri pendidikan Islam.
Menurut beliau, ketika keyakinan sudah tertanam, maka berbagai perbaikan dan pengembangan akan menjadi mungkin. Dengan fondasi Al-Qur’an dan Sunnah yang kokoh, pendidikan Islam memiliki modal yang jauh lebih besar untuk membangun keunggulan yang berkelanjutan, bahkan jika hasilnya baru terlihat pada generasi berikutnya.
Mengubah Standar Keunggulan
Dalam diskusi yang berkembang, juga disinggung fenomena bahwa masyarakat sering mengukur keunggulan sekolah hanya dari peringkat matematika, sains, atau bahasa Inggris. Syeikh Wissam menegaskan bahwa sekolah Islam yang menanamkan akidah yang benar, akhlak yang baik, serta pendidikan Al-Qur’an dan Sunnah sudah memiliki keunggulan mendasar.
Namun demikian, beliau menekankan bahwa hal tersebut tidak berarti pendidikan Islam harus tertinggal dalam bidang akademik. Justru, bukan sesuatu yang mustahil bahwa sekolah yang berbasis Al-Qur’an dan Sunnah suatu saat akan menjadi sekolah dengan prestasi terbaik di bidang sains, matematika, dan bahasa.
Selain kekuatan nilai, lembaga pendidikan Islam juga harus memperhatikan standar kualitas umum seperti kebersihan, kesehatan lingkungan, keramahan layanan, serta kelengkapan fasilitas, agar mampu bersaing secara profesional.
Dua Pesan Utama untuk Pendidikan Islam
Di akhir sesi, terdapat dua pesan penting yang menjadi garis besar arahan Syeikh Wissam bagi para pengelola pendidikan Islam:
- Melepaskan stereotipe bahwa sekolah unggulan hanya berasal dari sekolah non-Muslim atau berorientasi Barat.
- Menanamkan keyakinan kuat bahwa sekolah Islam yang dikelola adalah sekolah terbaik.
Penutup
Pesan Syeikh Wissam menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan Islam harus dimulai dari perubahan mindset. Ketika para pemimpin, guru, dan pengelola memiliki kepercayaan diri yang kuat, maka energi positif tersebut akan menular kepada siswa, orang tua, dan masyarakat luas.
Bagi Perguruan Diniyyah Putri Lampung, partisipasi dalam seminar internasional ini semakin memperteguh komitmen untuk terus membangun pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, dan kompetitif, tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Semangat kolaborasi dan kepercayaan diri inilah yang diharapkan menjadi energi bersama dalam menyiapkan generasi Muslim yang tangguh menghadapi tantangan zaman.

