
Pesawaran, 9 September 2026 — Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum bagi santriwati Perguruan Diniyyah Putri Lampung untuk merefleksikan kembali peran dan tanggung jawab santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat perjuangan para pendahulu diharapkan tidak hanya menjadi kenangan sejarah, tetapi juga diwujudkan melalui kedisiplinan, akhlak, prestasi, dan kontribusi nyata dalam menghadapi tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan oleh Kepala KMI/MA Diniyyah Putri Lampung, Ahmad Suhail Al-Anshory, dalam amanat upacara pada Kamis, 22 Oktober 2026, di lingkungan Perguruan Diniyyah Putri Lampung.
Dalam amanatnya, Ahmad Suhail mengapresiasi kedisiplinan santriwati yang telah bersiap dan mengikuti rangkaian upacara tepat waktu. Menurutnya, kesiapan tersebut menunjukkan bahwa kedisiplinan dapat tumbuh dari kesadaran dan kemauan untuk memberikan yang terbaik, bukan semata-mata karena paksaan.
Ia juga mengajak santriwati untuk meneladani semangat perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tonggak penting perjuangan tersebut adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945, yang membangkitkan semangat umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Namun, menurutnya, perjuangan santri pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda. Jika dahulu para santri berjuang menghadapi penjajah, saat ini santri dituntut mampu melawan kemalasan, ketidakdisiplinan, ketidakjujuran, sikap acuh tak acuh, serta berbagai kebiasaan yang dapat menghambat perkembangan diri.
“Jika dahulu para santri berjuang dengan mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan, hari ini kita mengangkat ilmu untuk mengisi kemerdekaan,” menjadi pesan penting dalam amanat tersebut.
Ahmad Suhail juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital. Santriwati diharapkan mampu menggunakan waktu secara produktif, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menjaga ibadah, mengembangkan keterampilan, dan memperbaiki akhlak. Teknologi, menurutnya, bukan untuk dijauhi, melainkan perlu dikuasai dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan.
Menjadi santri, lanjutnya, bukan sekadar mengenakan atribut atau memperingati Hari Santri. Identitas kesantrian harus tercermin dalam sikap, perkataan, dan perbuatan sehari-hari. Kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kedisiplinan, dan kesediaan memberikan manfaat kepada orang lain.
Menyiapkan Santriwati untuk Indonesia Emas 2045
Dalam menghadapi visi Indonesia Emas 2045, pendidikan memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, mandiri, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Perguruan Diniyyah Putri Lampung mengambil bagian dalam upaya tersebut melalui pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, kepemimpinan, dan teknologi. Dengan demikian, santriwati diharapkan tidak hanya memiliki bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi juga mampu berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan umat.
Semangat tersebut sejalan dengan harapan agar santri mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Santri diharapkan hadir membawa ilmu ketika masyarakat membutuhkan pencerahan, menghadirkan akhlak ketika kehidupan membutuhkan keteladanan, serta menghasilkan karya ketika bangsa membutuhkan kemajuan.
“Santri harus menjadi jawaban, bukan tambahan masalah. Menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan,” demikian pesan yang ditekankan dalam amanat Hari Santri Nasional tersebut.
Peringatan Hari Santri Nasional diharapkan menjadi titik tolak bagi seluruh santriwati untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat karakter, dan mengembangkan potensi. Semangat perjuangan para pendahulu perlu dilanjutkan melalui prestasi, akhlak mulia, pengabdian, dan karya nyata.
Dari Perguruan Diniyyah Putri Lampung, diharapkan lahir generasi santriwati yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, serta tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.
Santri bukan sekadar pewaris sejarah, melainkan penentu arah masa depan bangsa.


